
Sore itu, ketika bayiku tertidur pulas dalam mendung yang menggelayutkan gerimis samar-samar. Saya teringat untuk menuliskan sebuah penjelasan dari beberapa tanya teman serta kerabat kenapa ‘Layang’
Dari awal, saya dan suami telah sehati untuk memilih nama yang membumi, sebuah tetenger yang mampu merefleksikan asal usul kami dan identitas kami sebagai orang Jawa. Sengaja saya memang berpaling dari daftar panjang nama-nama yang bernuansa arabian, nama kebarat-baratan, nama yang merupakan singkatan nama orangtuanya maupun nama tematik yang mencerminkan momen tertentu.
Pertimbangan kami untuk tidak menggunakan rumus singkatan nama orangtua, karena kami tidak ingin menyisipkan bayang-bayang kami dalam kehidupan anak kami. Biarlah dia bertumbuh dengan sebuah kebanggaan sempurna dengan identitasnya sendiri yang mandiri. Sedangkan pilihan nama barat tidak sekalipun terbersit untuk menggunakannya, karena pedoman hidup kami bukan dari situ. Kami memilih nama berbahasa Jawa dan Sansekerta (sebagai ibu dari bahasa dunia) sebagai nama anak kami, untuk mengusung sebuah doa serta sebuah harapan baik bagi anak kami dan keluarga kami. Dan doa itu kami bahasakan dalam bahasa ibu kami. Bukankah sebuah doa juga bisa dipanjatkan dalam beragam bahasa bukan? Ya, pastinya karena Tuhan Yang Maha Keren itu sangat luar biasa
Continue reading
