FAKE ! I dont wanna see you again.

Teman baik menurut saya datang dengan sangat sederhana. Ketika seseorang baik untuk seorang lainnya, sebuah hal akan mendorong ke sebuah pertemuan, sebuah obrolan akan mengarahkan kepada sebuah kecocokan, dan semua hal akan mengalir begitu saja. Tulus tidak palsu, jujur, saling menguatkan dan berbagi dalam sebuah kesetaraan. Tidak salah satu lebih dominan dan yang lain mengalah untuk lebih mendengarkan, kemudian menekan egonya sendiri karena ruangan ego temannya sudah kepalang makan tempat.

Teman baik adalah rejeki, tidak bergantung dengan kuantitas tetapi kualitas. Bisa jadi teman kita dalam listing jejaring pertemanan ribuan, tapi tak satupun mampu jadi soulmate kita, bagi saya terlihat konyol dan menyedihkan.

Tetapi ketika teman yang baik yang ada didepan mata hanya bisa di hitung dengan satu tangan saja, tetapi paket kebaikannya komplit dan membuat saya belajar berbagi, bagi  saya adalah harta yang priceless.

Beberapa orang sering saya curhatin, tentang konsep pertemuan yang menjadi pertemanan menurut versi saya. Setiap orang akan bertemu orang lain karena sebuah maksud, kalau saya mengartikannya, membuat kita menjadi orang yang lebih baik, membuat saya dan dia berbagi manfaat. Hal itu terjadi kalau, saya dan dia nge-klik. Sehati. Dia atau saya akan bertemu dengan sendirinya. Dan pertemuan bahkan pertemanan itu tidak bisa di paksakan. Akan wagu, aneh dan tidak tulus. Itu menurut saya, bisa jadi salah menurut pandangan orang lain.

Saya tergerak untuk menulis ini, karena hati saya bergejolak. Sering saya ngomong dengan teman dekat saya yang  saya sayangi.. ihik ( efek blushing) tentang hal yang sama.  Betapa saat ini, saya sedang tidak cocok dengan sebuah model pertemanan seseorang yang lumayan baru saya kenal. Ketidak cocokan ini bahkan sering berubah menjadi pola, sepertinya saya susah berteman dengan perempuan ( read : ordinary type of woman). Saya lebih nyaman berteman dengan laki-laki yang terbiasa mengedepankan rasio, tidak membawa ego yang berlebihan dan menganggu bagi pihak lain.

Well,  mungkin salah saya juga yang mempunyai sifat feminim tidak dominan. Dan mungkin itu juga tidak diminati oleh perempuan, sehingga keberadaan saya dan beberapa perempuan lain saling menolak eksistensinya. Sebut saja,sebuah cerita tentang seseorang yang saya labeli sebagai queen of drama. Rupawan dan menarik pada saat pertama memandang. Secara fisik mengesankan. That’s fine. Saya tidak akan membahas kelebihan fisik, karena saya menjustifikasi seseorang beyond her looks.

Saat pertama bertemu diperkenalkan seorang teman yang kebetulan cocok dengan saya, saya tidak merasakan chemistry pertemanan. Tapi ya sudah, saya tetap saja berlaku biasa sebagai makhluk sosial. Tetapi, dengan sangat disadari saya malah mencatat banyak hal yang semakin menguatkan bahwa saya harus tidak dekat-dekat dengannya untuk mengurangi potential conflict dalam diri saya. Saya sangat tidak suka dengan drama queen! Ketika dia sibuk mencari perhatian orang lain agar memfokuskan atensinya pada dia, menurut saya dia sedang membodohi dirinya sendiri. Secara fisik dia sudah sangat impresif bagi orang lain, tapi ketika dia merasa itu tidak cukup dan malahan cari perhatian, saya memutuskan tidak akan memperhatikan dia. Urusan hidup saya lebih banyak.  Dia sibuk mengacungkan tangan agar dilihat, dan saya cukup memberikan atensi saya dengan jempol terbalik

Satu hal yang membekas di kepala dan hati adalah tentang Inconsistency dan ketidakjujuran yang menjadi pemicu hancurnya relationship pertemanan. Saya masih sangat ingat, dia berbicara banyak tentang konsep relationship dengan laki-laki. Waktu itu saya mendengarkan. Tetapi mungkin dia lupa pernah berbagi pada saya, malah apa yang dibicarakannya dibantah secara langsung dalam perbuatannya. Mungkin dia saat ini sedang menjilati ludahnya he..heh..

Sebenarnya tidak masalah sih, kadang-kadang manusia juga sering tidak konsisten pendiriannya. Tetapi, masalahnya dia membawa nama bapaknya. Karena bapaknya, dia akan memilih seseorang yang tidak akan membuat dia berkonflik dengan orangtuanya. Dia bilang dia sayang bapaknya, bahagia karena menjadi dekat dan intim kembali menjalin hubungan Ayah dan anak. Nah itu yang selalu saya catat. Kalau tidak membawa nama bapaknya mungkin saya juga tidak peduli, bukan urusan saya. Dan dia hanya ingin membahagiakan bapaknya, eh ternyata bapaknya hanya dijadikan alasan sesaat saja. Entahlah. Beberapa hal dia bicarakan, saat itu kepada saya tetapi saya lihat dia tidak melakukan apa yang dia omongkan. Hal itu mengingatkan saya pada pelajaran semasa SD dulu, tentang ciri-ciri orang munafik, ketika dia bicara dustaJ

Tapi biarlah, kok ya kebetulan saya yang menemui dan mencatat hal kecil yang penting itu. Dan saya takut, kalau saya mendekat saya akan kepikiran untuk tidak pernah memperhatikan apapun yang dia bicarakan, karena saya sudah mengantisipasi bahwa mungkin itu bohong belaka. Ketidakjujurannya menyakiti saya. Meskipun saya nothing to lose dengan apapun yang dia kerjakan. Tapi hati saya miris, berbisik sayang sekali. Mungkin saya harus ambil pelajaran dari situ, bahwa saya harus selalu hati-hati kalau berbicara sama orang lain, takut malaikat mencatat, takut yang bersangkutan juga mencatat, Mulutmu harimaumu.

Kemudian, mungkin karena saya memilih keluar dari lingkaran atmosfer dimana dia eksis disitu mengakibatkan hubungan dengan beberapa teman yang baik hambar. Tapi kalaupun boleh membela diri, saya tidak merasa jadi diri saya kalau dekat dengan dia. Melihat drama-drama yang dipasang agar orang kasihan, orang beratensi, dan ketidakjujuran omongan dia menghantui saya.

Nah, tipikal drama-queen seperti itu kebetulan tidak pernah saya temui dari teman-teman lelaki saya. Mereka cenderung apa adanya dan tidak haus perhatian dari orang lain. Mana ada lelaki menye-menye ? kalau adapun bukan lelaki tapi shemale :p

Ah sudahlah, kayanya curhatan kali ini berlebihan. Semoga pada waktunya ada yang tersadar dan memilih sebuah eksistensi yang tidak berlebihan J amiiiin.  Termasuk saya😉

3 thoughts on “FAKE ! I dont wanna see you again.

  1. Kita mirip di bagian :
    “Ketidak cocokan ini bahkan sering berubah menjadi pola, sepertinya saya susah berteman dengan perempuan ( read : ordinary type of woman). Saya lebih nyaman berteman dengan laki-laki yang terbiasa mengedepankan rasio, tidak membawa ego yang berlebihan dan menganggu bagi pihak lain.”

    dengan alasan yang sama,
    hmm, ternyata bukan hanya saya yang mengalami hal tersebut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s