belajar dari Merapi

Jogja, 26 oktober 2010 …

Panas dan luarbiasa menyengat, cahaya siang yang menghujam di kulit yang terlapisi jaket terasa pedih dan bagai mendidihkan kelembaban dibawahnya, kebanyakan dari kami mengeluh. kepanasan.

Tak lama panas mengubah cuaca menjadi mendung dan buliran air deras menjatuhi bumi, tak ketinggalan sebuah keluhan terucap karena badan terlanjur kuyup.

Kemudian sampailah di penghujung hari , ternyata Merapi, si legenda hidup itu kembali menghidupkan bermacam kisah mengenai letusannya yang sudah berlangsung berkali-kali sebelumnya.

Panas terik yang kami rasakan, walau kami sangat jauh dari puncak merapi mungkin tak berarti apapun

Keluhan kami sebelumnya mungkin terasa cengeng, layaknya manusia yang kadang lupa bersyukur

Sedangkan nun di puncak atas sana,

dimana keindahan Merapi dengan rakus selalu kami santap setiap hari dari bawah sini

Apa yang mereka rasakan sungguh tidak sesederhana keluhan kami ketika terik membakar kulit kami.

Karena di atas sana kulit mereka benar-benar terbakar hingga bahkan ada yang sampai terlepas dari daging.

Masya Allah, ampuni kami yang selalu tercekat kembali ketika kami  kadang mengingatMu dan ingin mendekatiMu ketika ENGKAU tunjukkan sedikit dari tak terbatasnya kuasaMU.

Dan Merapi kemarin,

kembali mengulang cerita pilu yang sama.

Membuat orang hilir mudik melakoni kepanikan yang sama,

mengembalikan kenangan akan sebuah pengalaman perih yang selalu terulang dari sebuah bencana,

yang harusnya membuat kami semakin bijak karena kami kenyang melakoni bencana dalam beberapa hari ini.

Dan memang sudah seharusnya Merapi begitu,

karena gunung berapi meletus itu biasa, cerita yang sama selalu berulang di berbagai penjuru dunia.

Harusnya tidak di jadikan berlebihan oleh para manusianya.

Gunung itu memang sebaiknya meletus saja, jika memang sudah waktunya.

Tak perlu di tahan, di tunda apalagi di kendalikan.

Harapannya, semoga hikmah sebuah letusan itu akan indah pada waktunya.

Untuk menyeimbangkan alam kembali.

Tak perlu mengumpat apalagi meratap. Karena ini adalah pembelajaran, yang terlalu mahal kalau terlewatkan kembali bagi semua manusia yang ( konon) berbudi tinggi ini.

Dan di balik letusan merapi kemarin,

semoga para manusia seperti saya mau mempelajari kembali bagaimana sebuah amanah harus gagah di pegang.

Layaknya Mbah Marijan yang membawa amanah sampai mati,

Beliau tidak pernah meninggalkan Merapi, dia tetap bersemayam disana, selama-lamanya. tanpa meninggalkan tanggung jawab tetapi membawa tanggung jawabnya hingga ujung hayat.

semoga khusnul khotimah Mbah …

saya masih kerasan dan betah tinggal di sini. kalau ditinggal, nanti siapa yang mengurus tempat ini’

-mbah maridjan-

One thought on “belajar dari Merapi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s