choosing the perfect obgyn

Saat saya ketahuan hamil, hal krusial yang menjadi prioritas adalah menemukan dokter terbaik untuk mendampingi kehamilan saya. Dan sepanjang pengalaman saya mencari dokter yang sehati dengan keinginan saya sangat sekali tidak mudah. Tetapi selama kita tidak menyerah untuk mencari, pasti Tuhan akan menunjukkan yang terbaik, tentu dengan cara yang sangat misterius tetapi menyenangkan 

Dari testimoni teman, saya memantapkan hati untuk cek kehamilan di sebuah RSKIA di Babarsari. Berbekal hasil testpack dan pengetahuan tentang kehamilan yang memadai saya dan suami bergegas kesana. Untuk pertamakalinya, saya harus menelan kekecewaan karena dokter yang saya kunjungi pelit informasi, saya yang masih dalam kondisi bingung apakah saya beneran hamil atau tidak sama sekali tidak merasa diberikan pemahaman yang baik untuk menghandle kehamilan saya.

Anehnya juga, saya tidak di USG dalam kehamilan yang diperkirakan berumur 4 minggu ini, padahal teman saya di RSKIA yang sama dengan usia kehamilan yang sama di USG untuk melengkapi analisa dokter dan menurut saya sih memantapkan hati calon ibu, bahwa di rahimnya beneran telah bersemayam seorang calon bayi. Dokter tersebut ( yang pada akhirnya beberapa kali saya jumpai di kontrol selanjutnya) mengatakan: Kalau hasil testpack positif, ya sudah pasti Anda hamil. *sigh, kalau hanya itu informasi yang ingin di bagi mending saya tak usah repot-repot ketemu dokter kandungan. Tak lama saya diberi vitamin dan pulanglah saya dengan hati yang tidak rela *dramatisasi pertama


Dirumah, saya menghibur diri mungkin saya salah milih dokter. Untuk kontrol bulan depan saya akan switch ke dokter kandungan yang menghandle kehamilan teman saya.

Di bulan selanjutnya, tak sabar saya mendatangi RSKIA tersebut, request dokter yang sama dengan dokter teman saya, eh ternyata dokter tersebut tengah cuti karena sedang ada agenda politik di kabupaten tetangga. Kemudian saya disarankan oleh FO untuk ketemu dengan dokter penggantinya. Saya manut aja, soalnya sudah kadung datang dan juga ngebet ingin tahu perkembangan calon anak kami. Dalam antrian yang lumayan panjang, saya mengeja nama dokter tersebut, menyimpannya dalam memori dan siap mencatat credit point-nya. Sampailah jatah antrian saya, dan ketika masuk ke ruangan saya merasa familiar dengan wajahnya. Duh, ternyata dokter yang sama. Saya mencoba berprasangka baik dengan mengajukan beberapa pertanyaan ( yang mungkin wajar di tanyakan oleh calon ibu baru dan mungkin saja sudah ribuan kali dokter tersebut mendapatkan pertanyaan yang sama). Pertanyaan saya yang mungkin standar, dijawab dengan singkat-singkat saja. Untuk pertamakalinya saya melihat janin yang sedang tumbuh di rahim saya, rasanya tak terceritakan untuk mendeskripsikan dahsyatnya kebahagiaan yang sangat surprised itu. Kekecewaan saya terbayarkan dengan keindahan rasa setelah melihat janin kami, apalagi dokter tersebut menjelaskan dengan rinci bagian-bagian dan pertumbuhannya. Kami terpana dalam bahagia.

Ketigakalinya, saya ke RSKIA tersebut dan manut dengan skedul dokter yang praktek hari itu. Lagi-lagi ketemu dokter yang sama. Semoga hari ini dia tak pelit informasi harap saya. Ternyata kekecewaan saya malah luar biasa memuncak, antrian yang panjang dengan cepat bergeser nomernya. Sepertinya sang dokter sangat terburu-buru, entah mengejar setoran pasien atau ada alasan lain. Entah. Saya dan suami yang menanyakan beberapa hal yang berubah dari diri saya di jawab dengan jawaban yang tidak logic, yaitu: itu semua karena Anda hamil. Whatt?!! Kami menelan ludah, bukan jawaban bodoh seperti itu yang ingin kami dapatkan dari seorang paramedis yang kami anggap lebih expert dari jurnal-jurnal online yang saya baca 
Dengan hati tak rela kami pulang, saya senewen dan berniat pindah RSKIA. Saya kembali banyak bertanya kepada teman-teman dan juga browsing online. Bulan selanjutnya pokoknya pindah RSKIA kata saya kepada suami. ( *sambil jengkel ngomongnya he..he…)

Jatah kontrol saya selanjutnya, saya kontak RSKIA lain yang masih dekat radiusnya dengan rumah tinggal saya. Seorang teman kantor juga punya pengalaman melahirkan disana. Saya kontak via telpon, tapi saya tidak begitu sreg. Kemudian atas saran teman saya kembali menghubungi RSKIA lama dan kemudian menanyakan apakah dokter teman saya sudah kembali bertugas dan menyelesaikan cutinya. I’ve got the answer that the doctor is back ! wah leganya. Dengan super semangat saya ijin pulang cepat untuk ambil antrian karena antrian di batasi sampai 30 orang saja. Hati saya bersorak, ketemu dokter yang konon keren tak terhingga. Saya membekali diri saya dengan sebuah note di handphone yang mencatat beberapa hal yang ingin saya tanyakan walaupun beberapa sudah saya browsing di media online. ( *ngetes aja apakah sinkron dan informasi yang dibagi ke saya akan lebih detail atau hanya generalnya saja) he..he…

Kemudian, masuklah saya ke ruang prakteknya. Dialog singkat sebelum USG, dilanjutkan dengan penjelasan-penjelasan tentang tumbuh kembang janin yang sebagian besar hampir sama dengan informasi yang saya dapatkan dari berbagai media kehamilan online. Dilanjutkan dengan sessi konsultasi. Tapi lagi-lagi untuk kesekian kalinya saya harus di kecewakan dengan ekspektasi saya. Sebuah pelajaran berharga saya petik, tak banyak dokter mampu memberi info sebanyak yang diinginkan oleh seorang pasien. Meski saya harus membayar sebuah harga yang tidak sedikit (untuk ukuran kantong kecil saya), belum tentu saya mendapat info yang sebanding. Dokter andalan ini ternyata tidak seresponsif pengharapan saya. Penanganan kasusnya sebelas-duanbelas dengan dokter sebelumnya.

Mungkin saya harus mendeskripsikan ulang tentang pemaknaan dokter favorit adalah dengan panjangnya antrian, bukan dengan klik-nya seorang dokter dan pasien yang merasa mendapatkan sahabat terbaik yang mampu diajak bertukar pikiran untuk mendampingi kehamilan.
Hal yang menjadi catatan kecil dari hasil konsultasi saya, dokter andalan ini menyoroti perilaku saya yang katanya ’doctor shopping’ karena melihat record medis saya yang di handle oleh dokter yang berbeda-beda. Saya tidak ingin mendebatnya, tak ada guna karena setelah ini saya akan ganti dokter lagi. Mungkin dia lupa, memilih seorang dokter terbaik adalah hak setiap orang. Dan saya bukan tipikal orang yang manut tanpa alasan yang jelas. Dan saya selalu membekali diri saya dengan informasi pendamping saat akan kontrol kehamilan. Setiap orang boleh kritis untuk mencari hal terbaik baginya, karena ini adalah hidup saya dan tidak sekedar sumber penghasilan anda. *sigh

Tak terasa perut saya makin buncit, dan saya tambah resah karena belum mendapatkan partner dokter kandungan yang klik. Untuk pindah RSKIA menurut hasil diskusi dengan suami bukan pilihan bijak karena medical record saya semuanya ada disini. Yang paling realistis adalah pindah dokter lain (lagi).
Secara random saya pilih dokter yang berpraktek sore diluar jadwal dokter-dokter yang belum cocok dengan keinginan saya sebelumnya. Datanglah saya selasa malam ke RSKIA tersebut. Saya duduk sambil menyimak, nomer antrian saya 6 ( sebelumnya di kisaran 15 sampai dengan 20an). Saya pikir sebentar saja saya akan menunggu. Ternyata tidak, sangat lama sekali. Antrian saya bergerak sangat lamban, sementara di ruang konsultasi dokter sebelah (yang ternyata dokter pertama saya dulu) antrian bergerak super cepat. Sepertinya tiap 5menitan pasien berganti seakan berlomba berlari. * aih lebay sekali :p
Hmmm…sebuah indikasi yang menarik catat saya. Berarti dokter yang ini lama ngomongnya which is means,dia mau berpanjang lebar menjelaskan dan menuntaskan sebuah informasi. A good sign for me.

Lama sekali, sepertinya sudah jam setengah sembilanan baru jatah saya di panggil. Tapi saya sabar dan sepertinya berbinar senang. Pertama melihat dokter baru saya ini, wajahnya sangat friendly sekali. Dia tidak malas untuk membalik medical record saya yang sudah di tambah halaman baru, dan dia sempat nanyain: kemarin dengan dokter X ya?
Hal ini sama sekali tidak kejadian sebelumnya. Saya dan suami sempat ngobrol dulu, tidak terlalu lama, tetapi sangat sekali menyegarkan. Dokter ini tidak terburu-buru untuk meng-USG saya, memberi penjelasan seperlunya kemudian selesai. Setelah sessi obrolan pertama membahas beberapa keluhan mendasar saya dengan penjelasan sederhana, dokter ini, yang bernama dokter Setyo baru melakukan USG. Menjelaskan dengan detil tapi tidak bertele-tele tentang tumbuh kembang janin.
Setelah USG masih berlanjut dengan penjelasan mengenai banyak hal menyangkut ibu dan calon bayi kami. Allhamdulillah, menyenangkan sekali sessi kontrol kehamilan kali ini. Dan saya segera mencatat data dokter ini untuk kemudian akan saya cari data online-nya ( kalaupun ada, kalau ga ada biarlah saya yang bertestimoni duluan). 

Selesailah kontrol saya hari ini dengan indah. Oiya, saya juga di beri kartu nama dokter ini yang mencantumkan nomer handphone dan YM yang sangat tersedia untuk di kontak. ( pada akhirnya nomer ini kemudian sering saya hubungi di waktu-waktu berikutnya).
Sepanjang perjalanan pulang, hingga sampai rumah. Tak selesai-selesainya saya membahas momen kontrol ini bersama suami bahwa ini dokter ideal saya. Dan saya tidak akan lagi cari dokter lain. I already found what I’m looking for. Allhamdulillah, Allah menunjukkan dengan cara yang luar biasa OKE, agar saya bisa compare dulu dengan yang belum cocok dengan keinginan saya hingga pencarian saya berakhir di titik yang sungguh ideal ( menurut standarisasi saya).

Dengan harga yang sama yang selalu saya bayarkan, saya merasa mendapat lebih dari yang seharusnya saya bayar. (atau memang harusnya segini banyak yg saya dapatkan ya?). waktu kontrol sebelumnya yang biasanya melaju dalam hitungan 5menitan, kali ini menjadi hampir setengah jam. Sangat terpuaskan dengan informasi yang dibagi, sangat senang dengan pelayanannya yang luar biasa ramah dan membumi. Pasti, jika ada saudara atau teman kebingungan mencari dokter akan saya sarankan menggunakan jasa dokter ini.

Setelah 2 x kontrol bulanan, kontrol saya berubah menjadi per 2 minggu dan kemudian menjadi per minggu. Pastinya sangat menyenangkan. Ada beberapa case ketika saya sudah tidak membutuhkan vitamin tambahan apapun, dokter ideal ini tidak memberi saya resep apapun. Dia sekedar memantau perkembangan kehamilan saya, dan tidak ngoyo ngasi vitamin, lha nggak butuh kok di paksain. Bahkan ketika saya harus beberapa kali cek lab, dia tidak mengharuskan saya cek di lab RS ini kalau kejauhan dari rumah ataupun saya ingin cek yang rate-nya lebih bersahabat di kantong. Sebagai seorang pasien (*yang berusaha kritis) saya tidak merasa di perdaya oleh dokter yang harus bikin laku semua obat dan vitamin yang di referensikan olehnya. ( atau oleh MedRep yang ngantri di ruang tunggu pasien* ups).
Meminjam istilah suami saya, sepertinya dokter ideal ini tidak butuh duit, niatnya mungkin gedean buat membantu dan nolongin orang-orang yang membutuhkan jasanya ( seperti saya ini 
Kadang kala, dalam kontrol rutin, saya sering menanyakan hal yang sebenarnya sudah saya ketahui jawabnnya dari berbagai referensi. Tetapi dengan sabar, Pak dokter masih saja memberikan penjelasannya. Sosok yang sangat menginspirasi, semoga saja nanti kalau saya di beri amanah mempunyai anak lagi, pasti saya akan mencari dokter ini lagi.

( akan bersambung dalam tulisan lain )

3 thoughts on “choosing the perfect obgyn

  1. mba…klo skrg dokternya masih praktik di RSKIA itu gk ya? klo iya mau minta nama lengkapnya dunk…
    q udh hamil 9 bln, tp mau cari 2nd opinion ttg kehamilanq yg menurut obgyn-q “aneh”…blh tlg sms ke no hpq (087839152580) ? soalnya q gk trll sering buka inet…makasih….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s