Layang anakku sayang, Layang anakku lanang


Sore itu, ketika bayiku tertidur pulas dalam mendung yang menggelayutkan gerimis samar-samar. Saya teringat untuk menuliskan sebuah penjelasan dari beberapa tanya teman serta kerabat kenapa ‘Layang’

Dari awal, saya dan suami telah sehati untuk memilih nama yang membumi, sebuah tetenger yang mampu merefleksikan asal usul kami dan identitas kami sebagai orang Jawa. Sengaja saya memang berpaling dari daftar panjang nama-nama yang bernuansa arabian, nama kebarat-baratan, nama yang merupakan singkatan nama orangtuanya maupun nama tematik yang mencerminkan momen tertentu.

Pertimbangan kami untuk tidak menggunakan rumus singkatan nama orangtua, karena kami tidak ingin menyisipkan bayang-bayang kami dalam kehidupan anak kami. Biarlah dia bertumbuh dengan sebuah kebanggaan sempurna dengan identitasnya sendiri yang mandiri. Sedangkan pilihan nama barat tidak sekalipun terbersit untuk menggunakannya, karena pedoman hidup kami bukan dari situ. Kami memilih nama berbahasa Jawa dan Sansekerta (sebagai ibu dari bahasa dunia) sebagai nama anak kami, untuk mengusung sebuah doa serta sebuah harapan baik bagi anak kami dan keluarga kami. Dan doa itu kami bahasakan dalam bahasa ibu kami. Bukankah sebuah doa juga bisa dipanjatkan dalam beragam bahasa bukan? Ya, pastinya karena Tuhan Yang Maha Keren itu sangat luar biasa

Kembali pada Layang.
Jauh-jauh hari sebelum saya ketemu suami saya, dan sangat lama sebelumnya saya sudah jatuh cinta dengan dua nama, yang dalam angan-angan saya kelak akan menjadi nama anak lelaki dan perempuan saya.
Bahkan saya pernah menulis sebuah novel pendek yang menuturkan perjalan dua tokoh utama perempuan (saya keep dulu namanya) dan Layang sebagai tokoh lelakinya. Sebuah kisah yang kalau saya baca kembali masih terasa dangkal penggalian insight dan alur ceritanya. Tetapi tak apa, karena waktu itulah momen awal saya mengisahkan kecintaan saya kepada nama Layang yang kemudian kami sematkan sebagai identitas anak tersayang kami yang pertama.

Saya mengenal kata layang dari bapak saya. Dari saya kecil hingga setua ini (ahaiiiy ngaku juga) Bapak biasa menyebut surat, dokumen dalam selembar kertas maupun berbagai bentuk undangan yang ditujukan ke Beliau dengan sebutan layang. Saya lalu mencatatnya dalam-dalam hingga sekarang, walaupun dalam keseharian saya tidak pernah menyebutkan surat sebagai layang. Sebenarnya masih banyak kata-kata Jawa asli yang masih dipergunakan dalam bahasa sehari-hari oleh bapak saya, seperti dluwang ( artinya kertas saudara-saudara), winih (benih) dan banyak lagi lainnya yang kelupaan.
Dan spesial untuk Layang, saya sudah jatuh cinta ketika pertama kali mendengarnya.

Saat saya hamil, saya meminta secara khusus kepada suami kelak kalau anak kami lelaki, saya ingin menamainya Layang. Terusannya terserah, asal matching dan punya identitas kuat sebagai orang Jawa. Allhamdulillah suami sepakat, sembari jalan kami memanggil jabang bayi dalam perut dengan nama Layang ( setelah di kuatkan dari hasil USG bahwa Yes, we’ll have a baby boy🙂 dan juga sembari menggali inspirasi untuk menambahkan nama panjang di belakang Layang.

Tidak mudah menentukan nama panjang layang, kepanjangan yang sepadan dan mampu mengimbuhi layang dan membentuk sebuah identitas penuh arti.
Menjelang minggu-minggu terakhir kehamilan saya, disepanjang perjalanan menuju kantor, saya menemukan satu kata sederhana yang powerfull, yaitu Satya. Segera setelah pulang saya ngobrol dengan suami. Menurut kami, satya sepadan untuk di imbuhkan mengikuti nama Layang. Satya dari bahasa kawi berarti setia, kata yang juga populer bagi kebanyakan orang. Setia sangat relevan sekali bagi kami as a family. Setia adalah sebuah kerinduan terbesar kami untuk selalu kembali pada kehangatan keluarga kami. Setia adalah hal yang membuat kami kembali utuh sewaktu bertemu. Setia adalah deru janji kami dalam menjalani keluarga sederhana ini. Setia adalah hal yang selalu menguatkan kami ketika saya (yang paling sering) merasa fragile. Dan, setia adalah kekuatan kami untuk menyatukan diri di sini dengan sepenuh hati, ikhlas dan rela untuk selalu saling membahagiakan. Amin.

Sementara, nama anak kami adalah Layang Satya. Masih ada satu pekerjaan untuk menambahkan satu kata lagi. Tentunya yang sepadan. Muncullah nama katara ketika menjelajahi kata per kata bahasa sansekerta yang berarti nama lelaki yang artinya luar biasa atau dahsyat. Suami sempat sangsi khawatir kalau katara yang saya maksud di artikan sebagai katara-nya avatar di film kartun yang tiap pagi menjelang jam 9 selalu kami tonton. Padahal tidak dari situ nama katara pada awalnya muncul di pikiran saya. dan karena suami juga tidak berhasil menemukan nama lain, kami lalu sepakat menggunakan nama Katara. Alasannya jelas. Katara adalah kata asli bahasa sansekerta yang makin memperkuat pemaknaan nama anak kami.

Jadilah nama anak kami, Layang Satya Katara. Layang adalah surat, dokumen, kabar. Satya adalah setia dan Katara berarti luar biasa. Tiga kata itu kami rangkai dalam nama yang bermakna sebagai janji yang luarbiasa untuk saling setia. Seorang anak yang akan menguatkan kami untuk selalu menjaga keutuhan hati kami serta senantiasa menyediakan pelukan terhangat kami untuknya. Kami juga akan berusaha memberikan tempat bernaung yang penuh kedamaian dan berusaha ada dan menjaga keberadaan kami untuk mendampingi hari-harinya, meringankan perjalanan hidup ketika dia letih, menggandengnya ketika suatu saat nanti dia jatuh, dan memberinya ucapan selamat dalam setiap keberhasilan hidupnya.

Doa kami sederhana saja nak, semoga keluarga kita senantiasa terjaga dalam menjalani kebahagiaan kita. Amin. Dan tersematlah nama anak kami pada Jumat, 14 oktober 2012 sebagai Layang Satya Katara. Semoga barokah. Amin.

One thought on “Layang anakku sayang, Layang anakku lanang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s