resign to RESHINE

Sudah 2 bulan lebih saya memerdekakan diri saya dari rutinitas kantoran dimana perjalanan karir saya dimulai sekitar thn 2001 dulu. Beragam alasan menjadi pembenaran keputusan saya (yang Alhamdulillah dipahami dengan baik oleh suami).
Sebenarnya keinginan untuk resign dari kantor terakhir saya itu sudah muncul lama sekali, mulai terbersit ketika Layang Satya Katara lahir dan menambah kebahagiaan kami. Rasanya kok saya tidak cukup rela untuk meninggalkannya bekerja. Tetapi saat itu hasrat resign serta merta luruh ketika saya bertemu Mbak Rini yang berbesar hati untuk membantu saya mengasuh Layang seperti anaknya sendiri ketika saya dan suami harus meninggalkan rumah untuk bekerja. Alhamdulillah.

Beberapa bulan berjalan setelah saya kembali aktif bekerja seusai cuti hamil, muncul repetisi masalah klasik yang dulu pernah terjadi di kantor ini. Mungkin mulai dari pertengahan tahun hingga September lalu kening seluruh penghuni ruangan berwarna orange itu tiba-tiba merasakan pening yang tidak terobati dengan obat sakit kepala yang populer di iklan tivi.
Kami resah dengan masa depan, galau dengan tagihan rutin serta gelisah membayangkan keluarga dirumah.

Logikanya, problem finansial pasti akan terselesaikan jika kita tidak malas dan mempunyai pekerjaan yang menghasilkan. Tetapi jika sebuah pekerjaan telah dikerjakan sementara kewajiban yang menjadi konsekuensi logisnya tidak kunjung (tidak disegerakan) untuk ditunaikan mau tidak mau membuat saya memikirkan ulang keberadaan saya disini.Langit muram yang menaungi kantor orange itu seperti dibiarkan begitu saja. Saya merasa seolah dilepaskan sendiri, setiap hari terus menjalani rutinitas yang diharuskan dan kepala saya memeras otak untuk menyelesaikan tanggung jawab yang harus diselesaikan.
Mendengar dari banyak cerita yang dishare, hal seperti ini pernah terjadi dan tidak hanya sekali. Ya.. sejarah suram ini sepertinya hampir menjadi tradisi. Sayang sekali mereka tidak membekali diri dengan solusi dan bahkan antisipasi, mereka diam ketika masalah datang dan kami butuh penjelasan ataupun sekedar di dampingi. Hati kami tidak dari batu, kami pasti mengerti jika diajak berbagi. Mmmm… tapi mungkin tidak semua orang bisa berbesar hati untuk minta anak buah, bawahan ( kalau bahasa saya teamwork) mengerti kalau seseorang yang posisinya memimpin belum bisa menunaikan kewajibannya. atau mungkin ini yang dinamakan gengsi, entahlah.

Perlahan dan pasti, saya menata hati agar mantap untuk berhenti.
Di kantor itu, hari-hari yang berjalan terasa panjang, setiap ada waktu luang selalu santer dengan obrolan kekesalan, kegundahan dan omongan bernada pesimis dan negatif. Orang-orang yang sama mengobrolkan hal sama mewarnai keseharian saya, baik itu di ruangan departemen kreatif, disebelah ruangan yang penuh dengan ibu-ibu maupun dirumah. Kadang saya merasa kasihan dengan suami yang harus selalu mendengarkan curhatan yang sama, masalah yang sama yang tidak dapat terselesaikan oleh penguasa kantor saya. Hanya ada satu solusi yang terbayang, ada didepan mata dengan sangat jelas, resign!

Pengambilan keputusan ini mantap saya ambil karena saya tidak ingin menghabiskan waktu saya setiap hari dari jam 09.00 s.d. 17.00 dalam energi negatif, hati yang tidak damai, jiwa yang gelisah dan tidak menemukan pengayoman yang arif menurut versi saya.
Nurani saya tidak lagi betah berlama-lama disana, saya tidak harus memaksakan diri saya didalam ruangan berdinding kaca-kaca itu.Daripada saya tiap hari membuat dosa baru dengan bergunjing dan berkeluh kesah, lebih baik saya menghentikan keberadaan saya disana. Saya percaya masadepan saya tidak sesempit bangunan gagah berhalaman besar yang menjulang di pinggir jalan tapi hollow itu.
Saya tidak harus mengikatkan jiwa raga saya lama-lama disana dan mengharapkan perubahan nasib saya dan bahkan berharap mereka berubah, ilusi itu terasa fiksi sekali (aih).
Kalau ingin berubah saya yang harus BERANI mengubah diri dan masa depan saya. Tuhan bersama orang-orang yang berani (mungkin tidak termasuk yang berani ngomong tok). Masa depan ada ditangan saya *retoris sekali.
Saya sangat tidak mau kalau saya tiap hari kesal dan kecewa dengan penguasa dan kondisi kantor tapi saya tetap ada disana dan tidak berani kemana-mana seolah tidak punya opsi lain untuk merenda masa depan. Sudah semestinya saya resign, saya pindah alamat dari kantor itu untuk dan mengais rejeki di luar sana, di bumi yang luar biasa luas ini. Selalu ada jalan karena Gusti Allah tidak akan pernah salah alamat untuk membagi berkah dan rejekinya.

Kebetulan momen yang mencerahkan ini dirasakan oleh seluruh penghuni ruang kreatif. Berbarenganlah seluruh penghuni ruang kreatif resign. Sebuah selebrasi resign diluncurkan oleh para pemikir konsep dan Walaupun momennya di serentakkan, saya yakin masing-masing punya rencananya sendiri. Masing-masing tim kreatif akan meniti jalannya sendiri-sendiri untuk mencari rejeki bagi keluarga dan pribadi masing-masing. Alasan yang mendasari mungkin hampir mirip, melepaskan energi negatif yang membebani dalam proses pencarian rejeki. Dan mencari rejeki dengan hati yang happy.

Tidak ada yang salah dan benar dalam sebuah resign. Hingga tidak fair kalau ada yang sampai hati memberi justifikasi dan mengabaikan bahwa setiap orang punya hak pribadi penuh menentukan apa yang terbaik menurut versi mereka sendiri.
Resign adalah bentuk kemerdekaan hati.
Saya prihatin ketika ada yang menjadikan resign sebagai awal dari sebuah medan laga baru untuk saling serang antara kubu internal dan mantan rekan. Menurut saya semua terjadi karena seleksi alam, ada resign dan tidak ada pun harusnya semua damai, indah dan sejahtera. Sayang sekali jika antar sesama rekan dan mantan rekan kerja ada kesumat. Bukankah masalah yang sama dulu dihadapi bersama. Pun tidak perlulah menurut saya siapapun lalu menjadikan diri seorang martir yang kini merasa harus berdiri paling depan dalam membela sesuatu yang dulunya menjadi sumber kekesalan yang tiap hari diobrolkan bersama.

Resign dan konsekuensinya yang muncul harusnya dilihat dengan mendalam, tidak dengan emosi sesaat yang muncul dipermukaan.
Bukannya kita semua pernah terkoneksi pada channel dan lokasi yang sama dalam satu fase hidup ini. Selalu ada yang harus pergi dan tetap tinggal dalam sebuah cerita. Dan semoga setiap orang yang pernah terkoneksi dengan jalan kabupaten 77 B itu berbesar hati, bahagia melihat semua orang meraih jalan hidupnya. Amin.

sebuah catatan ketika melihat cyberwar status di socmed site

One thought on “resign to RESHINE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s