butterfly – sebuah cerpen saya di SORE

Telepon di meja saya sudah tidak berdering, handphone saya mati suri, account email saya juga tidak lagi dimasuki pesan baru, sama halnya dengan window messenger saya yang sepi, sunyi dan tidak berbunyi.

Jumat jam 5 sore, adalah hari terakhir dan jam terakhir hari kerja saya. Saya berada dalam sebuah kubikel berwarna suram dengan efek lampu maksimal. Segelas air putih yang saya sesap, semakin menyempurnakan waktu yang terurai secara hambar, tanpa ritme dan tidak ada gaya.

Saya tidak merasa bosan, mengantuk dan bahkan saya juga tidak ingin segera beranjak pergi.Biarlah seperti ini. Terjebak dalam sesuatu yang tak berdimensi, sepi, sunyi dan mati.

Jam terus melaju dan kantor kembali melepaskan beberapa orang yang melangkah pulang. Saya sadar, pada akhirnya hanya ada saya sendirian di kantor besar ini, walaupun ada dua orang sekuriti yang berjaga tegap di posnya masing-masing.

Kali ini, saya tidak sedang di pusingkan oleh urusan tipologi font yang harusnya saya pilih untuk menuliskan sebuah tagline iklan cetak sabun colek yang akan tayang di surat kabar pinggiran yang menjadi tugas saya hari ini. Tidak, bukan itu.

Masalah saya adalah saya harus mengambil keputusan besar. Ini terasa seperti terlempar dalam sebuah dunia asing yang tidak saya pahami. Dunia yang hanya ada saya, keputusan saya, hidup saya sendiri dan tidak ada satu orang yang layak saya ajak berbagi saat ini.

Saya akan pulang. Bertemu kembali dengan Ibu, setelah bertahun memilih menyingkirkan diri dari hangatnya pelukannya. Sambil terus-menerus tercenung saya mengejar tiket terakhir yang kebetulan tersisa untuk membawa saya ke tanah kelahiran yang lama hendak saya lupakan.

Laju angkutan publik modern berhasil menggerus jarak dan waktu untuk menempuh jalan pulang. Saya sudah hampir sampai. Setelah diantar taksi yang tidak berlogo burung biru, saya masih harus melanjutkan perjalanan saya. Saya memutuskan memilih kereta kuda yang bertahun tidak saya jumpai. 20 menit lagi, estimasi waktu tempuh yang akan saya jalani untuk sampai. Kuingat, sebuah rumah besar, berhalaman luas yang menghadap timur dimana ada kolam ikan besar dan hamparan sawah hijau yang memberikan pandangan indah dari jendela paling depan.

Kereta kuda yang kutumpangi sangat bersih, terawat walaupun warna cat keretanya sudah tidak terlihat baru. Saya memesannya untuk mengantarkanku sampai pekarangan rumah Ibu. Berharga tidak sampai sepuluh ribu, si kuda segera berjalan dalam langkah-langkah ritmik sembari ditingkahi bunyi angin sepoi yang tersapu derapnya.

Desau angin, bunyi tapal kaki kuda, rasa mengantuk tertepa angin yang semilir terbelah laju kuda membentuk sebuah harmonisasi indah, yang tidak pernah ada di kota. Mungkin saja harmonisasi bunyi-bunyian alam ini jikalau di dengar seorang musisi dan diolah dalam irama musik tertentu bisa menghasilkan gemerincing rupiah yang akan menyertai kaum sosialita berdansa di klub-klub malam bernama asing.

Tuk..tik…tak…tik…tuk..tik..tak..tik..tuk..

Tuk..tik…tak…tik…tuk..tik..tak..tik..tuk..

Tuk..tik…tak…tik…tuk..tik..tak..tik..tuk..

….

Satu persatu ketukan suara sepatu kuda membawa saya dalam romansa dan perenungan. Satu demi satu saya kumpulkan nyali saya untuk bertemu Ibu lagi. Saya hendak meluapkan semua gundah yang memenuhi dada saya dan segera membaginya kepada Ibu. Saya mengenangkan semua kebahagiaan saya yang selama hampir separuh hidup saya di dampingi olehnya.

Suara sepatu kuda berhenti, dan angan saya yang melayangpun kembali ke bumi. Tepat didepan rumah, Bapak Sais kuda berkumis lebat dan berwajah ramah tersenyum.

Oh iya..saya sudah sampai ke tempat tujuan saya.

Saya menghirup dalam-dalam aroma tanah yang masih segar, walaupun mungkin hujan sudah lama terhenti. Basah, lembab dan subur, mungkin karena humus yang menempelinya tidak pernah tergerus oleh aliran bah yang senantiasa membanjiri kota tempat saya tinggal. Saya rindu membaui aroma ini, sangat jauh dibandingkan dengan aroma aspal dan semen yang panas, sombong dan hitam beraspal yang selama ini saya jumpai di kota.

Selangkah demi selangkah saya mendekat ke pintu rumah.

Saya berdiri di depan pintu, saya tegakkan badan saya, saya persiapkan sebuah senyum yang semoga saja terlihat tulus agar saya tidak terlihat sebagai seorang pendosa penuh putus asa didepan Ibu.

Sekian detik, saya teguh berdiri,

Saya memecah degup hati saya dengan memberanikan diri mengetuk pintu dengan buku jemari yang saya antukkan ke daun pintu jati antik di depan saya, yang tiba-tiba saja terlihat sombong sekali.

Tok..tok…

Dan saya ulang lagi

Tok..tok..

Saya menunggu dengan galau, akhirnya daun pintu terkuak, wajah ibu menyembul dan ekspresi wajahnya terlihat penuh keterkejutan.

Saya membeku s, dan berasa salah tingkah.

Ibu memusatkan seluruh pandangannya keseluruh wajah saya, kemudian ke rambut saya yang tergerai, terakhir ke baju yang saya sandang.

Ibu terkesima, saya pasrah ketika Ibu hampir tersedak mengamati saya tanpa jeda.

Saya yakin, Garis wajah saya masih di kenalinya, meski berpoles make up dan tampil sangat jauh berbeda dari saya yang dulu dikenalinya.

Hati saya makin bergemuruh,

Saya sudah hampir terjatuh

Mungkin saja saya akan membeku selamanya di depan pintu

Kalau saja, saya tidak segera di peluk

Dan tenggelam dalam kehangatan kasihnya.

Butuh waktu lama,

Untuk menghabiskan pelukan dan ciuman ibu yang sesekali mendarat untuk menuntaskan kerinduannya kepada saya bertahun ini.

Berulang Ibu memandangi saya takjub.

Ibu saya mungkin mengubur dalam-dalam semua pertanyaan yang merajalela memasuki hati dan pikirannya. Dengan kesederhanaannya, mungkin Ibu sedang menjalankan salah satu paham keikhlasanya yang selam ini dijalani kalau Ibu tidak mampu berbuat apapun untuk merubah sebuah hal. Meski saya paham sekali sesekali tatapan matanya terasa masygul. Kemudian kami banyak bercerita, tentang banyak hal, kecuali perubahan yang saya alami. Biarlah saja, nanti seiring waktu saya akan menjelaskannya pelan-pelan.

*

Pada hari selanjutnya,

Bersama Ibu, saya mulai melepaskan bingkai-bingkai pigura wajah lelaki manis berlesung pipit yang terlihat sendu dalam frame-frame yang menghiasi rumah Ibu. Beragam wajahnya dari muda belia sampai agak dewasa lengkap di pajang. Kemudian  saya melepaskan semua foto laki-laki tersebut dan memasukkannya dalam sebuah kardus bekas rokok yang besar sekali. Saya membawanya ke sebuah gudang, dan meletakkan di sebuah sudut paling ujung yang sangat tersembuyi.

Dari salah satu tas saya, saya keluarkan foto-foto terbaru saya.

Seorang perempuan manis yang matang, dan sebuah senyuman yang terlihat bahagia. Saya dan Ibu, menaruhnya dalam semua pigura yang telah dikosongkan tadi. Saya dan Ibu kemudian memajangnya di semua tempat dimana foto pria murung itu pernah terpajang.

Setelah selesai, saya memeluk Ibu yang matanya berkaca-kaca.

*

Di sebuah pagi cerah di kota saya mencari penghidupan.

Saya berias di depan cermin memulaskan segala rupa bubuk rona warna di wajah saya, kelopak mata,  kemudian tulang pipi dan terakhir di bibir saya.

Saya membanggakan dada saya yang busung berisi injeksi silikon, yang makin menguatkan identitas keperempuanan saya.

Lingeri seksi, high-heels lansiran terbaru, stocking berwarna matching, serta baju keluaran desainer ternama adalah paket sempurna saya untuk bertansformasi.

Hentakan lagu lama J-Lo, I’m Real, menemani saya memulai hari indah ini.

June 6th, 2009 on a quite perfect Saturday

2 thoughts on “butterfly – sebuah cerpen saya di SORE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s