LAUNDRY SERVICE

Pagi buta sekali, gelap, dingin dan agak mendung. Burung yang bersarang di pohon mangga besar samping rumah masih malas bercicit dan matahari masih bergelung di gumpalan awan, sepertinya masih butuh waktu agak lama untuk memunculkan diri.

Setapak demi setapak, Tinem melangkahkan tumitnya yang di alasi bakiak dengan hati-hati di jalan setapak yang sempit dan sedikit licin. Tinem berjalan menuju ke sebuah sumber air di ujung kampungnya yang biasa disebut sebagai belik.
Belik masih kosong tanpa warga kampung yang mandi, mencuci maupun buang hajat. Senyap dan lembab.Tinem bersegera menurunkan ember berisi baju-baju kotor yang digendongnya, mengurai satu persatu jenis pakaian yang diambilnya kemarin sore dari para pelanggan yang adalah tetangganya sendiri.
Kemudian Tinem mengisi berember-ember air belik, hilir mudik dengan 2 ember yang di tentengnya dengan perkasa. Keringat mengucur deras membasahi ketiak dan sekujur badannya, menguapkan aroma asam yang beku.

Tinem, si perawan buruh cuci kampung terjepit didalam belik. Tinem duduk diantara ember-ember berwarna mencolok, sikat cuci murahan dan sabun detergen batangan bergambar perempuan berkutang dengan latar belakang gelembung-gelembung sabun.
Bisa jadi saat ini, sabun detergen batangan bergambar kartun masa lalu itu sudah tidak tersedia lagi dept. store terkemuka di kota-kota besar dan bahkan menjadi pajangan para kolektor produk retro.
Tinem mulai menggosok, mengucek dan menyikat tumpukan baju-baju di depannya. Wangi menyengat sabun cuci bertebaran di udara, buih putih bergerombol dan bermuara di jari-jari kaki Tinem yang sudah tak beralas bakiak. Jari kaki yang lumayan bersih untuk seorang buruh cuci, tanpa kutu air dan bekas gatal-gatal karena terpapar oleh detergen dalam waktu yang lama dan rutin. Tumpukan baju kotor pelanggan sudah lenyap dan masuk ke ember bilasan terakhir. Tinem bersegera memeras semua baju pelanggan dalam tempo cepat. Kemudian mengumpulkannya dalam sebuah keranjang kusam yang sudah dimilikinya sejak 5 tahun lalu ketika Tinem memutuskan untuk menekuni profesi sebagai buruh cuci di kampungnya.

Sesaat kemudian, Tinem mengambil ember kecil yang disisihkannya dari tumpukan baju pelanggannya. Ember plastik anti pecah berwarna hitam yang berisi baju Mas Dibyo seharian kemarin. Diambilnya dengan hati-hati sebuah kemeja bergaris yang biasa di pakai Mas Dibyo dinas sebagai penjaga sebuah SMA di kota kecamatan. Sebuah SMA yang ditempuh Mas Dibyo selama satu jam mengayuh sepeda, Tinem sering melewatinya kalau sedang naik angkot ke Pasar.
Tinem memandang sepenuh hati kemeja bergaris punya Mas Dibyo, lalu di bentangkannya lebar-lebar dan kemudian diciuminya bau badan Mas Dibyo yang tertinggal. Dihirupnya berulang-ulang kemeja apek bermotif garis punya Mas Dibyo, tiba-tiba rasa rindu Tinem menyeruak, mengiris-iris ke dalam relung hati yang dalam, menggetarkan seluruh badannya. Dicium dan dihirupnya lagi berulang-ulang kemeja kotor itu, mata Tinem terpejam, tenggelam dalam pesona Mas Dibyo yang baginya adalah candu asmara yang meletup-letup.

Seekor katak meloncati kaki Tinem dan membuatnya terperanjat dan menghentikan buai lamunannya. Pipi Tinem bersemu merah, tiba-tiba saja Tinem tersipu ketahuan seekor katak sedang membayangkan Mas Dibyo pagi-pagi di dalam belik yang sepi. Sambil menundukkan wajahnya, Tinem mulai mencuci kemeja bergaris punya Mas Dibyo dan mengalirkan segenap energi keterpesonaannya dalam setiap kucekan yang dipersembahkan untuk membersihkan kemeja Mas Dibyo. Energi yang sama juga diberikannya penuh untuk setiap potongan pakaian yang diambilnya dari ember yang sangat spesial bagi Tinem.
Mencuci baju Mas Dibyo bagi Tinem adalah bagaikan gong yang menyenangkan untuk mengakhiri cuciannya. Baju Mas Dibyo adalah cucian penutup mengasikkan dan mampu menerbangkan imajinasinya kemana-mana. Tinem merasa sangat dekat dengan Mas Dibyo dan seperti terhubung dalam ikatan batin yang kuat.
Dan cucian terakhir yang selalu disisihkan di bagian akhir dan yang sangat spesial dan selalu ditunggu-tunggu Tinem adalah bagian untuk mencuci celana dalam Mas Dibyo. Celana dalam Mas Dibyo adalah sebuah ritual khusus yang akan mengakhiri prosesi cuci sehari-hari Tinem. Celana dalam Mas Dibyo selalu berwarna putih bersih.
Tinem selalu mengambil cucian penutupnya di dasar ember kecil dengan sangat hati-hati seperti mengambil benda yang sangat berharga.

dag…dig…dug….
dag…..dig……dug…..
daaaag……..
dig……
dug……….
……………………..

Dada Tinem berdegup kencang, aliran darahnya melaju dengan cepat. Tangannya menggapai kain celana dalam Mas Dibyo yang teksturnya sudah sangat di hafal Tinem. Tangan Tinem menggenggam erat celana dalam putih Mas Dibyo, mengambilnya dari dasar ember, membasahinya dengan air dan mulai disabun dengan sabun cuci batangan andalan, lalu dikucek dan dibilas bersih-bersih.
Tinem selalu meyakinkan bahwa celana dalam Mas Dibyo harus sangat bersih dan paling wangi diantara semua cuciannya. Selesai sudah, Tinem tersenyum lega dan mengelap keringat yang mengalir di keningnya.

Kemudian Tinem mengulurkan tangannya untuk mengambil ember Mas Dibyo, membersihkannya untuk memasukkan cucian spesial Mas Dibyo ke dalamnya. Tinem membalikkan ember Mas Dibyo, dan sebuah celana dalam meluncur. Dahi Tinem mengkerinyit penuh heran. Tangan kanan Tinem menangkap celana dalam berwarna hitam yang hampir meluncur jatuh dari ember.

Tinem membentangkan celana dalam Mas Dibyo yang berwarna hitam. Warna yang di luar kelaziman yang selama ini sudah dihafal di luar kepala oleh Tinem. Dengan perasaan gundah dan tidak menentu, Tinem mencuci celana dalam hitam asing itu dengan terburu-buru.
Tinem tidak peduli lagi dengan standar kebersihan dan kewangiannya yang dianutnya untuk celana dalam Mas Dibyo. Tinem kebingungan, cucian penutupnya pagi ini menjadi dua dengan warna yang kontras.
Hari sudah terang dengan samar-samar, Tinem segera menyelesaikan cucian celana dalam hitam Mas Dibyo. Kemudian Tinem yang gundah menggendong ember besar berisi cucian pelanggan dan menenteng ember kecil berisi pakaian Mas Dibyo.

Tinem berjalan tergopoh-gopoh ingin menuntaskan keingintahuannya yang membuncah. Tinem yang tidak seseksi Inem pelayan seksi, meliuk-liuk di jalan sempit memanjang yang bersanding dengan sawah-sawah. Beberapa buruh sawah yang berdatangan bersuit-suit melihat pinggul Tinem yang bergoyang-goyang di pematang sawah.

Tak berapa lama kemudian Tinem sampai di jalan kampungnya. Dengan beban cucian yang menggelayut di punggungnya dan tangan kanannya, Tinem memacu langkah kakinya agar lebih cepat sampai di jalan depan rumah Mas Dibyo.

Hati Tinem kembali mendesir aneh, perasaannya tak menentu sesampainya di depan pintu rumah Mas Dibyo. Tinem, menajamkan telinganya untuk mendengarkan suara-suara di dalam rumah Mas Dibyo yang biasanya sepi.
Suara Mas Dibyo terdengar, pelan dan merdu. Sepertinya Mas Dibyo sedang bersendagurau dengan seseorang di dalam rumahnya.

Tinem sudah tidak karuan lagi, beban cuciannya sepertinya bertambah 10x lipat menimpanya. Dengan memberanikan diri untuk menuntaskan galau hatinya, Tinem beringsut ke daun jendela kaca kamar Mas Dibyo.
Wajahnya di tempelkannya di kaca bening yang memperlihatkan isi kamar dan penghuninya.
Tinem hampir menjerit,
Mulutnya menganga selebar-lebarnya,
Bola matanya membesar,
Kakinya terasa dingin dan menjalar cepat ke seluruh tubuhnya,
Tangan kiri Tinem mendekap dadanya sendiri, berharap bisa meredakan hati yang berdebur
……………..
Pikiran Tinem yang masih sangat sederhana shock,
Tinem melihat Mas Dibyo dan seorang lelaki kekar berkacamata tebal.
Mas Dibyo memakai celana dalam berwarna putih,
Dan lelaki berkacamata itu memakai celana dalam berwarna hitam,
Mereka saling menggelitik di atas ranjang
………………..
Tinem segera beranjak pelan tanpa suara,
Sangat, sangat sekali pelan dan hampa…

Telinga Tinem masih sempat mendengar Mas Dibyo kembali tertawa,
Kali ini terdengar sedikit manja.
Kaki Tinem goyah menopang badannya yang limbung serta beban cuciannya yang makin berat.
Tinem berjalan lurus,
Terus lurus ke depan dengan mengabaikan semua belokan yang ada . Tinem berjalan bersama dengan semua cucian pelanggan di punggungnya dan ember baju Mas Dibyo, yang digendongnya ke mana-mana.

agustus 1st 2009

(mengenang usaha laundry seumur jagung di sebuah ruko di nologaten-jogja, viva laundy kita :p )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s